Corporate News

Mengenalkan Pasar Modal di PT KDL

Monday 00:00 / Mar 20, 2017

Initial Public Offering (IPO) atau yang lebih dikenal sebagai penawaran umum perdana dianggap sebagai salah satu opsi strategis perusahaan dalam memperoleh pendanaan proyek atau operasional umum. Bila ditilik lebih lanjut, sebenarnya IPO tidak hanya memiliki fungsi sebagai penghimpunan modal saja namun juga mengakomodasi kebutuhan perusahaan untuk berkembang lebih pesat dari sebelumnya. Hal ini tertuang dalam presentasi Bursa Efek Indonesia (BEI) bertajuk Akselerasi Pertumbuhan Perusahaan Melalui Penawaran Umum, 2 Maret lalu di Ruang Rapat Rotor PT Krakatau Daya Listrik (PT KDL).

Dalam acara tersebut hadir Direktur Keuangan dan Administrasi PT KDL, Abubakar Zaini; Direktur Operasi PT KDL, Tyas Waskito; jajaran Manager dan karyawan yang berkaitan langsung dengan rencana proses IPO perusahaan. Sedangkan dari BEI, hadir dua pembicara utama yaitu Saptono Adi Junarso, Head of Privatization, SME, Start-Up and Foreign Listing BEI dan Lulu Meutia, State-Owned and Regional Owned Enterprises Unit, Privatization, Start-Up, SME and Foreign Listing BEI.

Dalam presentasinya, Saptono dan Lulu menyampaikan empat pokok bahasan utama yaitu Pengenalan Pasar Modal Indonesia, Manfaat Pencatatan Saham di BEI, Proses Pencatatan Saham di BEI dan performa BEI. Saptono meyakinkan, manfaat dari sebuah perusahaan tercatat di lantai bursa tidak hanya berhenti sampai pertambahan modal saja, tapi juga mencakup aspek penting lainnya.

“Bila perusahaan masuk dalam pencatatan saham dan obligasi, maka perusahaan itu mendapat manfaat pendanaan tanpa batas, kinerja perusahaan meningkat, citra perusahaan meningkat, profesionalisme dan loyalitas karyawan meningkat, penerapan Good Corporate Governance menjadi lebih cepat, nilai perusahaan meningkat, mendapat insentif pajak, perpecahan keluarga pemilik dapat dihindari, mitra usaha strategis mudah didapat dan kemandirian perusahaan dapat tercipta,” jelasnya.

Lulu Meutia juga turut menyampaikan, Go-Public merupakan proses yang sederhana. “Perusahaan harus melakukan persiapan internal dan dokumen dengan menunjuk underwriter dan profesi penunjang yang berkaitan dengan bisnis perusahaan. Umumnya proses Go-Public justru paling lama ada di tahap ini. Setelahnya, pihak perusahaan datang ke BEI untuk permohonan perjanjian pendahuluan pencatatan saham ke BEI dan penitipan kolektif saham di KSEI. Proses selanjutnya langsung mendaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penawaran umum dan pencatatan perdagangan saham di bursa,” tukasnya.

Dalam sambutannya, Abubakar mengungkapkan, PT KDL sempat diminta oleh Kementerian BUMN untuk melaksanakan IPO. “Saat ini kami sedang melakukan pengembangan replacement boiler 2x80 Megawatt (MW) dan pembangunan pembangkit baru sebesar 150 MW. Jadi bila di total nantinya kapasitas pembangkit PT KDL ditambah dengan Combined Cycle Power Plant (CCPP) akan mencapai 430 MW. Dengan kapasitas sebesar itu kami merasa lebih percaya diri untuk masuk ke lantai bursa karena harga saham perdana yang ditawarkan bisa lebih baik,” ujarnya. Bila tidak ada kendala, ditambahkannya, tahun 2020 PT KDL sudah dapat Go-Public di Bursa Efek.

 

Acara ini ditutup dengan tanya jawab dan rencananya kedepan akan dilanjutkan dengan presentasi dari BEI terkait pemahaman berinvestasi di Bursa Efek. (hag)

Customer Info

Customer Support

Customer Feedback

Billing Info

PT KRAKATAU DAYA LISTRIK

Press enter to search