Corporate News

Workshop Transformasi Budaya Perusahaan PT KDL

Wednesday 13:32 / Jul 04, 2018

Sebagai bagian dari upaya menyukseskan perubahan budaya di PT Krakatau Daya Listrik (PT KDL), maka seluruh tim implementasi diberikan pembekalan terkait metode merumuskan, menerapkan dan mengukur nilai-nilai budaya perusahaan. Tim ini terdiri atas Change Leader dan Change Agent yang telah ditetapkan dalam Surat Keputusan (SK) Nomor 07/DU-KDL/Kpts/2018 tentang Pembentukan Tim Pengembangan dan Internalisasi Budaya Perusahaan.  

Dalam SK tersebut dijabarkan mengenai penggolongan anggota yang masuk sebagai Change Leader ataupun Change Agent. Change Leader terdiri dari Komisaris, Direksi dan Manager yang secara struktural berada dalam level Top Management. Sedangkan Change Agents merupakan karyawan yang ditunjuk dalam Tim Pengembangan dan Internalisasi Budaya Perusahaan dan disahkan melalui SK. Keduanya masuk sebagai Business Leader yang akan menjadi panutan dan tim pemandu bagi seluruh insan PT KDL dalam menerapkan budaya perusahaan baru.

Dalam pembekalan yang dipandu oleh Head Culture Implementation Bank Mandiri, Ade S. Martadipura, seluruh Change Leader dan Change Agents diberikan pemahaman mengenai arti penting budaya perusahaan bagi organisasi. Budaya perusahaan memegang peranan mensinergikan antar individu dan unit dalam organisasi, membedakan karakter suatu organisasi dengan organisasi lain, menjadi norma kesepakatan bersama, sebagai landasan kebijakan organisasi, acuan perilaku dan sistem nilai.

“Dari 200 CEO kelas dunia yang diwawancarai oleh lembaga konsultan Internasional McKinsey, ditarik tiga kesimpulan antara lain, nilai-nilai budaya perusahaan merupakan pondasi dasar untuk melancarkan strategi dan pengelolaan Modal Insani di perusahaan, budaya perusahaan dapat dijadikan indikator tingkat kesehatan sebuah perusahaan dan budaya perusahaan merupakan peringkat faktor mutlak esensial untuk memotivasi karyawan berbakat,” jelas Ade.

Ade turut mencontohkan, bagi Bank Mandiri, implementasi budaya perusahaan bertujuan untuk menciptakan tiga hal utama, yaitu mendorong perubahan pola pikir jajaran organisasi (Intrapreneurship dan Ownership), menciptakan cara-cara kerja yang berkinerja dan efisien (Guyub ke Dalam, Militan ke Luar) serta mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (slogan Feels Like Home). Seluruh tujuan tersebut bermuara pada keterikatan positif antara karyawan dengan perusahaan sehingga lahir pengembangan berkelanjutan.

Implementasi Budaya

Memasuki sesi berikutnya, Ade mulai mengenalkan cara-cara yang digunakan oleh Bank Mandiri dalam mengimplementasikan budaya. Pertama, adalah dengan mengaplikasikan 10 langkah praktik terbaik dalam implementasi budaya. Kesepuluh metode tersebut antara lain menciptakan tim yang khusus didedikasikan membidangi transformasi, membentuk tim internalisasi budaya, mengkreasikan kelompok 1:4, melakukan cascading/komunikasi, menciptakan program budaya yang melibatkan seluruh pegawai, menggunakan seluruh media komunikasi yang dimiliki perusahaan, membuat buku saku budaya, melakukan validasi atau pengukuran pencapaian internalisasi budaya, memanfaatkan peran leader yang selalu berbicara mengenai budaya dan menjadi role model serta terakhir menerapkan reward and punishment.  

“Dari seluruh praktik terbaik tersebut, pengukuran dan validasi menjadi aspek paling vital dalam kesuksesan implementasi budaya perusahaan. Ini untuk memastikan apakah program budaya kerja benar-benar diterapkan diseluruh unit kerja dan sesuai acuan? Apakah para leader berperan sebagai role model? Apakah Budaya kerja telah mendorong peningkatan kinerja dan iklim kerja yang kondusif? Dan apakah para Change Agent berperan di tiap unit kerja?,” papar Ade dalam materinya.

Metode pengukurannya dapat dilaksanakan dengan berbagai cara. Namun Ade mencontohkan yang diterapkan di Bank Mandiri berupa pengukuran Best Unit dan Best Employee.

Setelah mendapatkan arahan, para Change Leader dan Agent diberikan kesempatan melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk menentukan perilaku spesifik organisasi dan perumusan program budaya kerja.

Alugoro Mulyowahyudi, Direktur Utama PT KDL berpendapat, implementasi budaya kerja harus memiliki program kerja yang dapat diukur dan dievaluasi. “Kita dapat mengamati, meniru dan memodifikasi (ATM) dalam penyusunan program kerja dari perusahaan lain. Apabila sudah dijalankan, maka efektivitasnya dapat dievaluasi,” ujarnya. Oleh karena itu, Alugoro kembali menekankan bahwa kerja tim implementasi budaya ini akan membutuhkan komitmen tinggi karena semakin berat kedepannya. Tak lupa apresiasi tinggi diberikan kepada anggota tim atas dedikasinya mengikuti workshop secara penuh hingga dini hari. (hag)  

Customer Info

Customer Support

Customer Feedback

Billing Info

PT KRAKATAU DAYA LISTRIK

Press enter to search